Sabtu, 09 April 2011

Riset: Senyum Palsu, Biang Keladi Depresi


Senyum ramah dalam pekerjaan bisa membuat produktivitas kerja malah menyusut.VIVAnews - Bila tuntutan pekerjaan mengharuskan Anda untuk terus tersenyum, berhati-hatilah. Anda mungkin harus berpikir ulang sebelum mengobral senyum kepada orang lain, bahkan kepada pelanggan atau klien penting perusahaan Anda.

Sebagai salah satu bentuk kesopanan atau tuntutan kerja, seringkali kita berusaha untuk tersenyum kepada orang lain. Namun, berdasarkan sebuah penelitian, ternyata senyum yang dipaksakan malah justru tak baik untuk kejiwaan maupun etos kerja.

Ini tentu saja berlawanan dengan maksud kebijakan banyak perusahaan. Biasanya, karyawan-karyawan perusahaan transportasi umum, pertokoan, bank-bank, serta bagian call center di setiap perusahaan, diwajibkan untuk selalu tersenyum kepada pelanggan mereka.

"Perusahaan-perusahaan mungkin mengira dengan menyuruh karyawan mereka tersenyum, akan berakibat baik bagi organisasi mereka. Tapi tak selalu begitu," kata Brent Scott, pemimpin riset yang juga Asisten Profesor pada Michigan State University AS.

Riset tersebut meneliti sekelompok pengemudi bus selama lebih dari dua pekan. Para peneliti mengamati efek dari penampakan senyum dengan kondisi emosi mereka. Hasil riset menunjukkan bahwa melempar senyum yang dibuat-buat alias senyum palsu, ternyata justru bisa membuat seseorang menjadi tertekan.

Senyum palsu bisa memperburuk mood dan bahkan bisa membuat produktivitas kerja seseorang menyusut. Sementara itu, ketika seorang karyawan tersenyum karena gembira karena mendapatkan pikiran yang positif--misalnya ketika mereka menghadapi hari libur--justru bisa meningkatkan mood dan membuat mereka lebih efisien dalam bekerja.

Situasi ini akan semakin membekas pada pekerja wanita. Ketika mereka tersenyum di saat merasakan emosi yang negatif, ini justru akan membahayakan kondisi emosional mereka. "Saat melakukan akting permukaan, wanita akan menerima efek yang lebih daripada pria. Emosi mereka bisa lebih buruk," kata Scott.

Tapi, bila karyawan wanita itu bisa menghayati senyuman mereka saat bekerja, mood mereka memang bisa semakin meningkat dan mereka bisa menekan depresi yang mereka alami.

Diperkirakan, ini tak lepas dari intensitas emosional dan tingkat ekspresi yang lebih besar, yang dimiliki oleh wanita ketimbang pria.

Walau demikian, Scott mengingatkan efek jangka panjangnya. Walaupun akting senyum yang lebih dihayati bisa meningkatkan mood dalam jangka pendek, tapi bila dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama, bisa membuat seseorang merasa tidak otentik.

"Mungkin Anda berusaha untuk menanamkan emosi positif pada diri Anda. Namun, pada akhirnya, Anda mungkin akan merasa bahwa itu bukan diri Anda lagi," ujar Scott. (SJ)

Ditemukan, Bakteri Pengganti Pasta Gigi


Peneliti asal Jepang menemukan bakteri yang diproduksi oleh mulut manusia yang justru mampu mencegah pembentukan lubang di gigi. VIVAnews - Peneliti berhasil menemukan senjata baru dalam memerangi kerusakan gigi. Caranya menggunakan enzim yang diproduksi oleh bakteri mulut yang justru mencegah pembentukan plak. Temuan ini membuka peluang pembuatan pasta gigi yang memanfaatkan alat pembasmi plak milik tubuh.

Seperti diketahui, mulut manusia penuh dengan bakteri. Lebih dari 700 spesies hadir di ruangan yang hangat dan lembab, termasuk Streptococcus mutans (S. mutans), salah satu komponen utama plak.

Melekat dengan gigi dalam lapisan tipis yang disebut biofilm, S. mutans mencerna gula dan memproduksi asam yang memakan enamel dan menyebabkan gigi berlubang. Selain S. mutans, bakteri-bakteri lain merupakan tamu yang lebih ramah.

Sebagai contoh, tahun 2009 lalu, peneliti menemukan bahwa S. salivarius, jenis bakteri yang ditemukan di lidah dan jaringan lunak lain di mulut, justru menurunkan perkembangan biofilm S. mutans.

Seperti dikutip dari Sciencemag, 4 April 2011, Hidenobu Senpuku dan rekan-rekannya, biolog asal National Institute of Infectious Diseases, Tokyo, Jepang mengamati zat yang menghadirkan kemampuan mencegah lubang dari S. salivarius.

Menggunakan teknik kromatografi, metode di mana molekul dibagi berdasarkan isi atau ukuran, peneliti memisahkan tiap-tiap protein dari sampel mikroba yang diambil. Peneliti kemudian mencampur setiap protein dengan sel S. mutans dan mengukur kombinasi mana yang menumbuhkan jumlah biofilm dalam jumlah yang paling sedikit dalam wadah di lab.

Dari uji coba, diketahui bahwa protein FruA, sebuah enzim yang berfungsi memecahkan gula yang kompleks, merupakan pemblokir biofilm yang paling bertenaga.

Peneliti juga mendapati bahwa salah satu bentuk FruA, yang diproduksi oleh jamur Aspergillus niger yang tersedia di mulut juga mengatasi plak dengan sama baik. FruA ini juga bekerja dengan baik meski asam amino yang dimiliki berbeda dengan FruA yang dipunyai oleh S. salivarius. “Ini dapat mempercepat penemuan pasta gigi yang mengandung FruA,” kata Senpuku.

Meski begitu, temuan yang dipublikasikan di Applied and Environmental Microbiology tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk orang memakan seluruh permen yang ada. Pasalnya, saat peneliti meningkatkan konsentrasi sucrose, salah satu jenis gula dalam campuran yang mengandung FruA dari S. salivarius dan S. mutans, kelebihan bakteri itu dalam mencegah pembentukan biofilm menjadi musnah.

Peneliti menyebutkan bahwa hasil temuan mereka mungkin menjelaskan sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1996 lalu mengungkapkan hubungan FruA terhadap pembentukan lubang gigi pada tikus.

Mary Ellen Davey, mikrobiolog asal Forsyth Institute di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat setuju bahwa temuan ini bisa memicu pembuatan pasta gigi yang lebih baik. Namun menurutnya, itu bukan hal mudah.

“Menemukan formulasi yang menggaransi bahwa enzim itu tetap aktif setelah ia disimpan di dalam tabung dan dijual di toko obat merupakan tantangan yang besar,” ujar Davey.
• VIVAnews

Pria Menganggur Berisiko Mati Lebih Cepat


VIVAnews - Menurut penelitian yang dilakukan oleh Eran Shor, profesor sosiologi dari McGill University, Montreal, Kanada, pengangguran menaikkan risiko kematian prematur hingga 63 persen. Kesimpulan ini diambil setelah melakukan survey terhadap 20 juta orang di 15 negara, umumnya negara-negara barat, selama 40 tahun terakhir.

Yang menarik, meski sistem kesehatan di sejumlah negara sudah lebih baik dan berkontribusi terhadap rendahnya tingkat kematian, korelasi antara pengangguran dan risiko tinggi kematian terjadi di seluruh negara yang disurvei. Riset ini sendiri bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan sebab akibat antara pengangguran dan risiko kematian.

“Sampai saat ini, salah satu pertanyaan besar adalah seputar kondisi kesehatan yang ada seperti diabetes, masalah jantung, atau perilaku buruk seperti mengonsumsi rokok, minuman keras, atau obat terlarang menjurus ke pengangguran dan risiko kematian yang lebih besar,” kata Shor, seperti dikutip dari MedIndia, 7 April 2011.

Yang menarik, kata Shor, dari penelitian diketahui bahwa kondisi kesehatan yang sudah ada (sebelum survei) tidak berpengaruh. Ini mengindikasikan bahwa hubungan pengangguran dan kematian menjadi hubungan sebab akibat.

“Kemungkinan, penganggur mengalami tingkat stress yang lebih tinggi dan mempengaruhi status sosioekonomi seseorang,” kata Shor. “Ini menjurus ke kondisi kesehatan yang memburuk dan tingkat kematian yang lebih tinggi,” ucapnya.

Dari penelitian juga diketahui bahwa pengaruh pengangguran terhadap tingkat risiko kematian dan tingkat kematian pada pria lebih tinggi dibanding wanita. Angkanya mencapai 78 persen pada pria dan hanya 37 persen pada wanita. Risiko kematian ini cukup tinggi khususnya bagi mereka yang berusia di bawah 50 tahun.

Pil Ini Bisa Sembuhkan Cacat Moral?


VIVAnews - Ini memang seperti sebuah cerita fiksi. Tapi, suatu hari mungkin kita bisa mengobati cacat moral seseorang dengan menggunakan pengobatan melalui pil.

Para ilmuwan memang sangat tertarik untuk mengembangkan teknologi biomedis yang dapat mempengaruhi proses biologis, sehingga bisa meningkatkan perilaku moral seseorang.

"Sekarang, ini menjadi topik yang hangat di bidang riset saintifik," kata Dr Tom Douglas, periset dari Uehiro Centre Oxford University, seperti dikutip dari situs Guardian.

Menurut Douglas, yang juga merupakan salah satu pengarang buku Enhancing Human Capabilities, sebenarnya saat ini sudah ada obat-obatan yang dapat mempengaruhi pemikiran berlandaskan moral serta perilaku.

Prozac, misalnya, bisa meminimalkan agresi dan kegetiran terhadap lingkungan sekitar. Dengan kata lain, obat ini juga bisa membuat pasien menjadi lebih kompromis. Sementara itu, Oksitosin, atau biasa disebut dengan 'hormon cinta', diketahui dapat meningkatkan perasaan terhadap ikatan sosial dan empati, sekaligus juga mengurangi rasa cemas.

"Para ilmuwan akan mengembangkan lebih banyak obat-obatan. Sekarang saja, misalnya, kita bisa meminta resep beberapa dosis Oksitosin, sebagai obat semprot di hidung," kata Douglas. Namun, tak semua orang setuju dengan pendapat Douglas.

Deputy Director of Oxford Centre for Neuroethics Guy Kahane, mengatakan bahwa obat mungkin bisa mempengaruhi respon emosional seseorang. Namun, menurut Kahane, meningkatkan perilaku moral, bukanlah sesuatu yang bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan.

Lagipula, andaikan hal itu bisa, ia juga ragu apakah orang-orang mau dengan sukarela menenggak pil demi memperbaiki moralnya. Kahane mengatakan, membuat seseorang menjadi lebih baik, tidak agresif, dan lebih lembut berarti membuat orang itu menjadi lebih mudah dieksploitasi orang.

Di sisi lain, Kahane mengakui, bila hal ini diterapkan secara luas, mungkin memang bisa membantu manusia dalam mengatasi masalah global dan kemanusiaan. Namun, Ruud ter Meulen, Director of the Centre Ethics University of Bristol, memperingatkan, obat ini kadang juga bisa menimbulkan efek buruk.

"Oksitasin memang bisa menanamkan rasa percaya dan kerjasama dengan orang lain pada kelompok sosial yang sama. Tapi ini juga bisa mengurangi rasa empati kepada orang yang berada di luar kelompoknya," kata Meulen.

Contoh lainnya, Meulen menjelaskan, pengobatan terhadap penyakit Parkinson menggunakan stimulasi otak juga bisa mengakibatkan pasien menjadi lebih berani mengutil dari toko, bahkan menjadi agresif secara seksual.

Meulen lebih setuju bila obat-obat pendongkrak perilaku moral ini digunakan pada sistem peradilan kriminal.

"Pil-pil ini akan lebih efektif bila digunakan untuk pencegahan dan mengobati kriminal daripada menjebloskan orang ke penjara," katanya. Di Indonesia, mungkin ini bisa diberikan kepada para pejabat atau wakil rakyat yang korup dan tidak bermoral. (umi)

Selasa, 05 April 2011

TIPS PANJANG UMUR

VIVANEWS--ShaMaRa Healthy
Memiliki umur yang panjang menjadi harapan setiap orang. Namun, harapan hanya sebuah harapan jika tidak diiringi dengan usaha. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Denmark, kita dapat hidup selama 100 tahun atau 20 tahun lebih lama dibanding usia manusia rata-rata saat ini.

"Yang menghambat kita selama ini adalah kebiasaan buruk," ujar Walter Bortz II, MD, Profesor bidang obat dari Universitas Standford.

Untuk dapat menembus usia 100, kita harus fokus terhadap aktivitas-aktivitas positif yang dilakukan, seperti mengonsumsi buah dan sayuran yang menambah umur lima tahun, berolahraga lima kali seminggu menambah umur 2 sampai 4 tahun, dan tidak stres dapat menambah 6 tahun pada umur kita.

Lalu, apa lagi rahasia panjang umur seperti yang telah dikutip oleh Yahoo! Shine.

1. Melakukan hobi

Dengan melakukan hobi, Anda dapat menambah panjang umur Anda sebanyak 2 tahun. hobi dapat mengurangi stres dan membuat hati menjadi senang.

2. Manfaatkan waktu luang

Memiliki waktu luang yang sedikit dapat meningkatkan risiko sakit jantung delapan kali lipat. Oleh karena itu, manfaatkan waktu luang Anda semaksimal mungkin untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai. Hal ini pun dapat memberikan satu hingga dua tahun panjang umur.

3. Tidur

Biasakan tidur 7-8 jam setiap hari untuk memperbaiki sel tubuh Anda yang rusak sehingga Anda pun dapat hidup dua tahun lebih lama.

4. Bercinta

Berhubungan intim dengan pasangan dapat membuat Anda hidup tiga hingga lima tahun lebih lama karena seks dapat melepaskan stres dan memunculkan perasaan senang yang dikarenakan oleh hormon oksitoksin. Dengan melakukan aktivitas ini, Anda pun membakar 200 kalori.

5. Melakukan yoga

Penelitian terbaru menemukan bahwa yoga dapat meningkatkan kewaspadaan, dan membantu diet Anda.

6. Minum teh hijau

Teh kaya akan antioksidan yang membantu tubuh melawan segala macam penyakit.

7. Asah terus kemampuan otak

Menurut penelitian yang dilakukan oleh The Mind Research Network di Meksiko, bermain game online, seperti tetris selama 30 menit pe hari dapat membantu kerja otak lebih maksimal.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons